Cara Memotivasi Anak Part 7

Diana dan anaknya sedang duduk di meja menunggu pelayan.
“Selamat datang, mau pesan apa?”
Suara pelayan terdengar familiar di telinga Dana. Dana menoleh untuk melihatnya, saat
kedua pasang mata itu bertatapan, keduanya terkejut. Ternyata pelayan itu adalah
pengantar makanan yang tadi. Namun, tak seperti pelayan dan anaknya, Diana malah
tertawa – tawa.”
“Eh, masih lapar ya? Memang lebih enak makan di sini.”
“IYa, kami bosan makan di rumah.”
“Mau pesan apa?” kata pelayan sambil menyerahkan daftar menu.
“Kami pesan teh manis dulu, dua. Iya kan?”
Dana hanya mengangguk tanpa berkata. Dana malu, celakanya wajahnya menunjukan
itu.
“Segera.”
Setelah pelayan itu pergi, Diana menatap anaknya. “Apa pun yang terjadi, kamu jangan
panggil mama. Panggil aja Diana. Jangan ada yang tau aku mamamu, Paham!”
“Dari semua tempat makan di kota ini, kenapa malah dilayani dia sih?”
“Itulah yang disebut takdir. Meski sebelum pergi kita bisa memutuskan untuk makan di
restoran manapun tanpa ada yang memaksa harus ke mana, namun pertemuan ini
sepertinya tidak bisa dihindari. Mama ke toilet dulu. Tunggu di sini.”
Diana berjalan menuju toilet, di tengah jalan, Diana berpapasan dengan pelayan tadi.
Diana hanya tersenyum namun Dana terlihat semakin gugup dan atau malu.
Diana kembali ke meja. Di meja telah tersedia minuman yang tadi dipesan. Saat Dana
menyedot minumannya, Diana lalu menaruh sesuatu di meja yang membuat Dana
tersedak. Dana melihat mamanya menaruh celana dalam hijau.
“Biarkan itu terus di meja, berani gak?”
“Mama mau ngapain?”
“Senang – senang dong. Biar jadi kenangan indah buat kamu.”
Namun Dana malah mengambil celana dalam mamanya dan memasukkannya ke saku.
Diana hanya menyeringai melihat tingkah anaknya.
“Dasar mama gila.”
“Hehehe.”
Keduanya lalu diam saat pelayan kembali datang.
“Maaf, sudah siap pesan?”
“Saya pesan lasagna aja. Sedangkan wanita cantik ini sepertinya akan memesan chicken
parmesan, benarkan Di?”
Diana tertawa, “bolehlah.”
“Tuan memang pintar memilih pasangan. Mau sekalian saladnya?”
“Boleh.”
“Ada yang lain lagi?”
“Tidak.”
“Terimakasih. Mohon tunggu pesanannya,” kata pelayan itu sambil berjalan pergi,
namun tetap berusaha menatap Dana.
Setelah pelayan itu pergi, Diana membungkuk hingga kepalanya agak mendekati
anaknya, “dia masing ingat saat kamu telanjang lalu membayangkan gimana kamu
menyentuh wanita seusia mama.”
Dana menyemburkan minuman dari mulutnya.
“Mama benar – benar gila. Bagaimana dulu tingkah laku papa sama mama sih?”
“Papa dan mamamu pasangan serasi. Tau gak?”
“Pantes saja.”
“Mama dan papa saling mencintai. Pokoknya akan melakukan segalanya demi pasangan.
Mama sangat setia, bahkan tak pernah selingkuh. Sepertinya papamu juga begitu.
Pokoknya mama dan papa sangat terbuka bagi hal – hal baru. Intinya adalah
komunikasi.”
Percakapan terhenti saat pelayan datang membawa salad. Mata pelayan itu tak henti –
hentinya mencuri pandang ke Dana.
“Jadi, ‘Diana’ ini biasa seperti ini dulu sama papa?”
“Mama rela melakukan apa saja demi papamu hingga separuh jiwa mama moksa seiring
dengan moksanya papamu. Bertahun – tahun mama merasa hidup ini hambar, begitu
hambarnya hingga bagaikan tiada lagi yang bisa lebih hambar lagi. Sampai akhir – akhir
ini.”
“Sampai akhirnya aku mau jadi mahasiswa.”
Sekarang Diana yang tertawa dibuatnya pun hingga saat pelayan datang.
“Ini makanannya, silakan.” Pelayan mulai meletakkan makanan, namun mulutnya tak
berhenti bicara. “Mohon maaf, apabila boleh tahu, berapakan usia tuan dan puan yang
sungguh sangat serasi ini?”
“Baru tujuh belas.” Kata Dana.
“Saya sih cukup tua. Bahkan layak untuk menjadi ibu dari anak ini,” jawab Diana sambil
tersenyum.
Pelayan itu menggeleng, “Luar biasa. Tuan dan puan sungguh terlihat sangat bahagia.”
Pelayan itu masih tetap menggelengkan kepala sambil pergi menjauh.
“Mama ternyata suka mengambil resiko.”
“Mama dan papamu justru pemburu sensasi. Apa lagi yang sangat membuat
mendebarkan. Mama jadi kangen masa – masa dulu. Apa kamu sekarang merasa
berdebar – debar?”
“Bukan hanya itu, tapi juga takut setengah mati.”
“Itulah sensasinya. Pokoknya ingat, asal jangan sampai ada yang terluka dan harus
saling menghormati.”
Aroma makanan membuat pembicaraan berhenti. Berganti dengan acara santap.
Makanan pun habis. Diana berdiri melihat pelayan mendekat. Saat pelayan itu
menghampiri meja, Diana menyapanya.
“Terimakasih untuk pelayanannya sayang.”
Setelah itu mereka pun keluar dari restoran. Namun sebelum masuk ke mobil, Dana
menatap mamanya.
“Berani gak mama lepas rok itu dan nyopir sambil gak pake bawahan?”
Diana tersentak. Diana menatap anaknya lalu melihat keadaan di parkiran itu. Setelah
melihat keadaan, Diana kembali menatap anaknya sambil menyeringai. Diana lalu
melepas rok dan memberikan ke anaknya.
Angin dingin langsung menyentuh tubuhnya.
Diana langsung duduk di belakang kemudi. Diana lalu menurunkan jendela di pintu kiri.
“Mama gakkan nyetir sampai dapet celanamu.”
Dana menyeringai dan mulai melepas celana panjangnya. Kini di jok belakang terdapat
rok, celana panjang dan sepatu.
“Lepas juga dong celana pendekmu?”
“Siap, tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Dana ingat belum punya video mama lagi make mainan karet mama itu. Gimana,
setuju?”
Dana sedang melepas celana pendeknya saat mamanya tertawa sambil berkata setuju.
Keduanya kini tidak memakai bawahan sama sekali hingga sampai di rumah.
Sampai di depan rumah, keduanya belum keluar dari mobil. Jalanan tampak sepi
sehingga meski mobil mereka melintang agak tengah, tak ada yang memprotes. Pagar
masih tertutup. Diana menatap anaknya.
“Berani gak kamu buka tuh pagar tanpa pake celana dulu?”
“Asal mama isep dildo itu di akhir pertunjukan?”
Diana tertawa, “bener – bener cabul.”
“Kan belajar dari ahlinya,” kata Dana sambil keluar dari mobil dan bergegas membuka
pagar.
“Sialan mama. Dasar eksibisionis.”
“Ya ya ya… kata orang yang tak bercelana,” kata Diana, tertawa sambil keluar dari mobil.
“Ya ya sekarang waktunya tampil. Dana ingin pantat itu siap.”
“Saatnya anakku kerja,” kata Diana berjalan sambil melepas pakaiannya.
Dana mengikuti mamanya dari belakang, “Mah, daripada telanjang, apa mama punya
lingerie?”
“Wow, mungkin masih ada. Gini aja, kamu siapin aja kameranya biar mama juga siap –
siap.”
“Oh iya.” Seringai Dana.
Diana beranjak ke kamar mandi di kamarnya untuk mulai menyiapkan diri sementara
anaknya memasang tripod. Selesai memasang tripod, Dana duduk di kasur menunggu
mamanya muncul.
“Oh, mama cantik sekali.”
“Makasih.”
Diana terlihat cantik memakai lingerie hitam.
“Kamu suka?”
“Iya mah.”
Diana lalu berjalan menuju laci mengambil keluar dildonya. Saat melewati anaknya,
Diana menepuk kontol anaknya dengan dildo sambil tersenyum.
“Temen kecil bertemu temen palsu.”
Setelah itu Diana naik ke kasur dan terlentang.
“Cdnya dilepas apa dipake, pak sutradara?”
“Dilepas aja mah.”
“Ya udah sini bukain dong.”
Dana tertegun. Dana mendekat dan menjulurkan tangannya saat mamanya mengangkat
pantatnya. Sentuhan tangan Dana pada pinggul mamanya membuat mereka merasakan
getaran nafsu yang tak tertahankan. Tangan Dana lalu menarik cd itu. Saat cd itu
mencapai lutut, pantat Diana kembali diturunkan dan kini kakinya yang diangkat
membuat cd itu akhirnya terlepas seluruhnya.
“Makasih.”
Setelah itu Diana mengambil dildo dan mulai mendekatkannya ke selangkangan yang
dirasanya sudah mulai basah. Diana lalu diam, menatap anaknya.
Dana tertawa seolah disadarkan, “Oh iya, kamera. Duh.”
Dana lalu memainkan kamera yang ditaruh di tripod. “Oke, action.”
Diana kini mulai mengelus – elus dildo itu ke memeknya sambil mengerang. Tak butuh
waktu lama bagi Diana untuk mencapai orgasme hingga erangan Diana makin keras
namun tertahan, dan tubuhnya pun mengejang. Akhirnya Diana berbaring sambil
terengah – engah.
Diana lalu mendekatkan dildo itu ke wajahnya.
“Mama tantang kamu jilatin ini.”
“Apa?”
“Kamu dengar tadi, jilatin aja, gak usah yang lain. Inget aja ini barusan dari mana, jangan
bayangin bentuknya.”
Dana terlihat ragu. Namun akhirnya Dana mengambil dildo itu dari tangan mamanya.
Dana mulai mendekatkan dildo itu ke mulutnya.
“Papamu dulu suka banget rasanya.”
Meski masih terlihat ragu, namun Dana menjulurkan lidah sambil menutup matanya.
“Okelah.”
Dana lalu duduk di kasur, tangan kanannya memegang dildo sambil menjilatinya
sementara tangan kirinya kini menyentuh kontol dan mulai mengocoknya. Hanya
sebentar, namun kocokan itu mampu membuat lahar panas menyembur dari kontolnya.
Lahar itu membasahi perut Dana sendiri. Dana pun merebahkan dirinya di kasur.
Melihat anaknya berbaring di sebelah dengan perut penuh pejunya membuat Diana
membungkuk dan mencolek peju anaknya dengan tangannya. Tangan berpeju itu lalu
dihisapnya hingga bersih.
“Mmmhhh… rasanya beda sama rasa papamu.”
Mereka berdua lalu menapa kamera yang masih merekam. Diana menyeringai sambil
menatap anaknya.
“Mau buat salinannya untuk pelayan kita gak?”
Diana tertawa menyadari anaknya terkejut. Diana lalu bangkit menuju kamar mandi.
“Pingin tau selanjutnya? Mainkan aja imajinasimu.” Kata Diana sambil menutup kamar
mandinya.
Dana hanya berbaring sambil menyeringai. Mencoba berimajinasi.